PIALA ADIPURA KE 11X

Piala adipura kembali diterima oleh Kab. Jepara dan sekarang ini Kab. Jepara telah mengantongi piala adipura yang ke-11 sejak 2005 – 2015 secara berturut – turut. Hal ini tak terlepas dari kerjasama antara jajaran petugas kebersihan dan masyarakat kota jepara. Piala adipura, pada selasa 24 nopember 2015 tadi siang piala adipura diarak dari Welahan sampai ke Kota Jepara, kurang lebih pada jam 11.00 WIB dari welahan sampai kota jepara sendiri kurang dari 12.00 WIB. Sesampainya di pendopo Kab. Jepara piala adipura diserahkan oleh kepala Dishubkominfo kepada Bupati Jepara dan diteruskan ke Wakil Ketua III DPR Jepara.

Semoga tahun demi tahun kota jepara terjaga kebersihannya.

Kloase

Festival Layang-layang di Jepara

Suasana langit di Lapangan Desa Semat Minggu (14/9) pagi hingga siang tak seperti biasanya. Puluhan layang-layang dari berbagai jenis, bentuk dan ukuran memadati langit yang kemarin cerah berawan. Ada yang berbentuk perahu layar, menyerupai train (kereta api), bola kristal, burung dan lain sebagainya.

Tak hanya itu, suara sowangan yang bunyinya mirip suara lebah juga saling terdengar saling bersahutan. Saat angin bertiup kencang, semakin keras pula suara sowangan yang terpasang di bagian ekor layangan tersebut.Ratusan penonton pun kerap bertepuk tangan saat layang-layang milik peserta bermanuver dan bersuara keras.

Antusiasme penonton ini bisa dimaklumi karena gawe Festival Layang-layang ini memang diramaikan oleh sejumlah atlet nasional. Salah satu atlet layang-layang nasional yang mengikuti gawe itu adalah Rifai. Rifai sering mengikuti festival layang-layang yang digelar di berbagai daerah di Indonesia, seperti Bali, Jakarta, Yogyakarta dan lain sebagainya.

Setelah beberapa jam mengudara, panitia Festival Layang-layang pun memutuskan Rifai sebagai pemenang gawe ini. Layang-layang Rifai yang diikutkan dalam festival ini berbentuk perahu layar. Layang-layang ini termasuk ukuran jumbo. Tinggi dan panjang layang-layang ini sekitar 1 meter. Laiknya perahu layar pada umumnya, layang-layang ini juga memiliki layar terbagi tiga bagian. Setiap bagian ada tiga layar. Sementara di belakang ada baling-baling yang dipasang sowangan sehingga berbunyi keras saat ditiup angin.

”Untuk membuat layang-layang butuh ratusan ribu rupiah. Uang itu belum termasuk tenaga dan bahan lainnya. Jadi tidak sia-sia juga,” ujar Rifai.

Layang-layang lain yang menarik perhatian penonton adalah milik Rosyidi. Lelaki yang juga kerap mengikuti berbagai even ini membawa laying-layang yang berbentuk menyerupai train (kereta api). Agar bisa terbang, layang-layang train ini harus diulur satu per satu. Butuh lebih dari tiga orang untuk menerbangkan layang-layang ini.

“Butuh dana sekitar Rp1 juta untuk buat train ini. Memang belum juara pertama tapi saya sudah cukup puas,” tutur Rosyidi.

Wakil Bupati Jepara, Subroto yang ikut menonton Festival Layang-layang ini pun memberikan apresiasi kepada pemenang gawe ini. Secara spontan layang-layang perahu layar milik Rifai dibelinya seharga Rp400 ribu. Rencananya layang-layang itu akan dipajang di rumah dinasnya sebagai bentuk apresiasi terhadap kearifan lokal.

“Pemkab Jepara memang berusaha mengangkat berbagai kearifan lokal yang hidup di masyarakat. Apakah itu berupa seni, budaya, produk UMKM dan lain sebagainya,” jelasnya.

Subroto berharap even serupa bisa digelar lagi tahun-tahun berikutnya. Ia bahkan berharap even mendatang bisa lebih meriah sehingga memiliki dampak terhadap sektor lainnya.

“Misalnya sektor pariwisata. Ini bisa kita paketkan dengan agenda kunjungan wisatawan yang berkunjung ke Jepara,” tandasnya.

Berikut Rentetan Prosesi Larungan Pesta Lomban

JEPARA – Bupati Jepara Ahmad Marzuki menetapkan untuk Pesta Lomban tahun ini akan dilaksanakan pada Sabtu 25 Juli Sabtu 2015. Secara umum biasanya Pesta Lomban dilaksanakan pada sepekan setelah hari raya yang jatuh pada hari Jumat . Namun mengingat hari Jumat merupakan hari pendek dan mayoritas penduduk Jepara  beragama Islam dan harus melaksanakan solat Jumat serta dalam prosesi lomban membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga diganti pada hari Sabtu agar tidak mengganggu umat muslim melaksanakan solat Jumat.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara Mulyaji mengatakan , segala persiapan untuk melaksanakan puncak Syawalan di Kota Ukir telah dilakukan. Seperti mempersiapkan prosesi untuk larungan dan persiapan terkait keamanan baik di laut maupun darat.

“Pada hari Jumat akan dilaksanakan kirab hewan kerbau dari TPI Ujung Batu menuju rumah pemotongan hewan di Jepara tepat pukul 07:00 pagi , yang akan diikuti 150 peserta, dari nelayan, masyarakat umum, ini dimaksudkan untuk nemambah daya tarik dan kemeriahan ” ungkapnya pada Kamis (23/7) .

Lebih lanjut Mulyaji menjelaskan , pada Jumat pukul sore diadakan ziarah kemakam Cik Lanang dikomplek Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) dan dilanjut berziarah dimakam Mbah Ronggo di Ujung Batu. Pada Jumat malamnya dilaksanakan pagelaran wayang kulit di TPI Ujung Batu .

” Kali ini mengambil lakon ” Wahyu Buga Busana “, sedangkan Sabtu siang dilaksanakan dua pagelaran wayang yakni di TPI Ujing Batu dan TPI Demaan ,” jelas Mulyaji .
Sementara untuk larungan sendiri akan dimulai Sabtu pukul 06:00 pagi dari TPI Ujung Batu menuju kesebelah utara pulau Panjang dan kembali ke Pantai Kartini . Prosesi larungan akan melibatkan 95 kapal dari beberapa daerah seperti , Mlonggo , Bangsri , Jepara bahkan beberapa kapal dari Kabupaten Demak . Saat pelarungan seluruh penumpang diwajibkan untuk mengenakan life jacket guna keamanan. Saat prosesi larungan sendiri nantinya akan menggunakan formasi kapal 1 – 4 -3 – 6 .

” Kapal utama diisi oleh Bupati dan pejabat Forkopinda, kemudian disusul dengan 4 kapal , 3 kalap dan yang terakhir 6 kapal , formasi ini merupakan sesuai dengan tahun hijriah kali ini yakni 1436 H , ” terangnya .

Dalam prosesi larungan kepala kerbau tahun ini berbeda dengan tahun tahun sebelumnya . Jika biasanya kepala kerbau beserta sesaji dilarung kemudian diperebutkan oleh nelayan , untuk tahun ini para nelayan ataupun peserta larungan dilarang untuk berenang memmperebutkan sajian yang dilarung . Hal ini semata untuk mengedepankan keselamatan para peserta larungan .

“Seekor kerbau yang telah di sembelih , dagingnya dimasak serta dibagikan kepada masyarakat , kemudian kepalanya dilarung ke tengah lautan ,Ini semata ungkapan rasa sukur kepada Tuhan yang telah memberikan hasil yang melimpah kepada nelayan, selain itu kegiatan ini dimaksudkan untuk mempererat rasa kekeluargaan dengan nelayan dan semua.masyarakat, juga nguri uri kearifan lokal yang dimiliki Jepara secara turun temurun  ‘, Pungkasnya .